Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 November 2017

Sendiri sambil perbaiki diri

Jika jodoh tak kunjung datang, melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya pribadi dalam menjemput jodoh yang saya idam-idamkan. insyaAllah jika diizinkan saya akan berbagi satu per satu apa yang saya siapkan untuk menjemput jodoh idaman, dan semoga bisa membantu teman-teman yang merindukan menikah namun jodoh tak kunjung datang.

Tulisan pertama saya akan membahas, “SIBUK MEMPERBAIKI DIRI, BUKAN SIBUK MENCARI YANG BAIK”

Perlu kita tanamkan dalam hati kita bahwa sebelum kita dilahirkan ALLAH sudah menentukan seberapa banyak rizqi kita, kapan kita mati, kapan kita menikah dan bahkan dengan siapa kita akan menikah. Jadi jodoh kita sudah ALLAH tentukan sebelum kita terlahir di dunia. Jadi buat yang masih belum menemukan jodohnya, selalu berkhusnudzon bahwa ALLAH sudah menyiapkan jodoh untuk kita, hanya perlu bersabar hingga waktu yang telah ALLAH tentukan itu tiba.

Sebelum lebih lanjut saya bercerita, ada sepenggal firman ALLAH yang saya rasa sudah banyak teman-teman yang mengetahuinya, surah An Nur ayat 26.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula),……….”
Firman ALLAH inilah yang menjadi fokus saya ketika hendak mencari jodoh. Dulu saya menginginkan jodoh seorang wanita yang agamanya baik, selalu melaksanakan perintah ALLAH didalam setiap sendi kehidupannya, yang menjaga penampilannya, pokoknya shalihah gitu aja hehehee nah setelah udah menentukan kriteria seperti apa jodoh saya, hal selanjutnya yang saya ikhtiarkan bukanlah membuat “list wanita shalihah” yang akan dijadikan sasaran buat ta’aruf, apakah fulanah ataukah si dia ataupun yang lainnya . Karena saya yakin bahwa jodoh saya adalah “dia”. “dia” yang saat itu menjadi cerminan diri saya. Tapi saya mencoba memposisikan diri menjadi cerminan kriteria wanita shalihah yang ingin saya nikahi, yaitu dengan berusaha untuk mensolehkan diri. Karena saya yakin jodoh saya sudah pastilah “dia”, dan jodoh saya nantinya adalah cerminan diri saya. Jadi saya meyakini jika saya bukanlah orang yang sholeh maka saya akan tetap dipertemukan dengan “dia” wanita yang tidak sholehah, dan jika saya berusaha mensolehkan diri maka saya akan tetap dipertemukan dengan “dia” wanita yang juga sedang berusaha untuk menshalehkan dirinya. Jadi intinya adalah memantaskan diri dengan kriteria pasangan yang kita inginkan. Karena kebanyakan tidak ada laki-laki soleh datang untuk berta’aruf dengan wanita yang masih gemar mengumbar auratnya kemana-mana, dan juga tidak mungkin seorang wanita yang sholehah akan menerima tawaran ta’aruf dari laki-laki yang masih gemar meninggalkan perintahNya. Jadi sibukkan diri kita untuk memperbaiki diri, mensolehkan/mensholehahkan diri kita, agar calon teman hidup kitapun juga berproses untuk meperbaiki dirinya. Karena yang menggerakkan hati manusia itu adalah ALLAH yang jiwa kita dalam genggamanNya, jadi mudah bagi ALLAH untuk membalikkan hati kita ke arah ketaatan dan membalikkan hati calon teman hidup kita ke arah ketaatan.

Dan alhamdulillah saat ini saya dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sedang bersama-sama selalu berusaha untuk selalu melaksanakan segala perintahNya dalam setiap sendi kehidupan.

Dan ternyata apa yang saya yakini sebelum menikah terjawab semua setelah saya menemukan jodoh saya. Jodoh kita adalah cerminan diri kita. Setelah pernikahan saya sedikit mengulik tentang masa lalu istri saya. Dan ternyata saat kami jauh sebelum menikah, kami sama-sama masih banyak tidak melaksanakan perintah ALLAH. Misalnya, sebelum menikah istri saya masih suka pakai celana jeans meskipun memakai kerudung, dan saya pun begitu dulu masih gemar keluar rumah menggunakan celana pendek yang jelas kalo buat gerak-gerak bisa menampilkan sebagian aurat laki-laki. Namun ketika saya mengetahui akan aurat laki-laki dan berusaha untuk selalu menutupnya, ALLAH pun menggerakkan hati istri saya untuk memperbaiki penampilannya sesuai dengan syariat, mulailah dia latihan menggunakan rok dan kerudung yang lebar. Dan saat saya berusaha untuk memperbaiki diri saya dengan banyak mengikuti majelis ilmu, ALLAH pun juga menggerakkan hati istri saya untuk sering-sering menghadiri majelis ilmu. Maka bernarlah firman ALLAH pada surah An Nur ayat 26 tadi.

Jadi jika teman-teman menginginkan suami/istri yang soleh/sholehah maka tanyakan pada diri kita masing-masing, sudah pantaskah kita memiliki suami/istri yang soleh/sholehah?

Jumat, 18 November 2016

Cerpen Kisah Cintaku



Perpisahan  Termanis


Pagi itu kicauan burung terdengar merdu, sebelumnya aku mempunyai pacar dari waktu menginjak SMA hingga berada di bangku kuliah, setelah lulus SMA kami terpisah kami melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi  dan kota yang berbeda. Hari terus berganti, waktu terus berputar, roda kehidupan terus berjalan, kami masih berhubungan selayaknya anak remaja yang sedang dimasbuk cinta, sering bertelfon-telfoan dan chattingan setiap harinya, dan itu selalu membuat hubungan kami berwarna. Dia juga melakukan aktivitas sama sepertiku, hubungan kami berjalan 2 tahun dari waktu SMA hingga kami menginjak kuliah. Entah apa yang terjadi, hubungan kami mulai renggang ketika kami berjauhan, kami sering bertengkar, sering menyalahkan satu sama lain, sering berdebat dan selalu mementingkan ego masing-masing.
Suatu hari, hujan deras angin lebat mewarnai suasana kamarku dan pada saat itu hp dia tidak aktif, dan sulit dihubungi, entah perasaan apa yang sedang merasuki otakku, setiap hari aku selalu dibuatnya marah,jengkel, dan selalu menuduh sesuatu yang belum jelas terjadi, jam berganti menit, menit berganti detik, banyak kejadian dan masalah yang setiap harinya terjadi ketika kami LDR.
 “Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Adi memulai pembicaraan.
“Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan sekolah di sana?” ujarku.
Adi hanya mengangguk perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah matahari yang mulai terbenam. Suasana sore hari itu membuat hatinya yang kacau sedikit tenang. Adi sudah diterima di universitas yang telah lama dia impikan. Namun masalah yang harus dihadapinya adalah aku dan Adi akan terpisahkan oleh jarak dan waktu. Surabaya bukanlah kota yang mampu ditempuh hanya dengan satu  jam perjalanan dari Bojonegoro.
“Jadi keputusanmu bagaimana? Kau akan mengakhiri hubungan ini begitu saja?” lanjutnya.
“Jika kau mau bertahan dengan jarak dan waktu yang memisahan kita, aku pun tidak masalah,” jawab Adi.
“Kau mau kita menjalani LDR?” ujarku dengan suara lirih.
“Iya. Tapi apa kau bisa?” tanya Adi balik.
“Aku akan berusaha dan tetap menjaga hatiku sampai kau kembali,” ucapku dengan tersenyum melihatku.
“Kau janji?” ujarku dengan mata berkaca-kaca.
“Tentu saja,” ujar Adi menggengam erat jemariku. Dia seperti tidak ingin mengakhiri hubungan kami.
Malam hari ketika Adi sudah berada di kota dimana dia sedang menimba ilmu.
“Hai, Sayang lagi apa?” Sms Adi mengudara di hpku.
“Cari referensi tentang tugasku,” jawabku singkat.
“Bisa aku bantu? Sepertinya kau kesulitan,” ujar Adi.
“Tak usah” ucapku ketus.
“Marah ya? Oke dah maaf. Aku pergi tidur dulu ya. Bye,” ujar Adi mengakhiri sms nya.
“Baiklah, aku tau kau tidak suka LDR dengannya tapi aku rasa dia sangat sayang padamu,” ujar Ifa. Ifa merupakan sahabatku sejak SMP hingga kami duduk dibangku kuliah.
“Sudahlah, berhenti ngomongin dia,”
 “Kau tahu tidak, waktu aku lagi di jalan kemarin aku melihat Adi sedang boncengan  bersama mantannya,” tutur Ifa.
“Mantan? Maksudmu Tasya?” ujar ku dengan wajah kaget.
“Iya, apa Adi tidak bercerita padamu?”
Aku menggeleng. Aku merasa khawatir jika Adi sudah melupakan janjinya untuk saling menjaga perasaan. Namun ak mencoba untuk berpikir positif. Mungkin Adi sedang ada tugas dari kampus yang harus dikerjakan berdua.
Aku tiba-tiba teringat dengan Adi dan berniat untuk menelfonnya untuk menjelaskan sebenarnya apa yang sudah terjadi antara dia dan Tasya.
“Kau sedang menelfon Adi?” Ujar Ifa.
Aku mengangguk dan terus sibuk mengetik sms yang akan ku kirim ke Adi menuduhnya seakan-akan dia selingkuh dibelakangku.
“Tidak, aku akan lebih berkonsentrasi pada kuliahku. Mungkin kamu terlalu berfikir negatif tentang aku. Aku tidak ingin menyakitimu dan aku pun tidak ingin bersedih saat kau berada jauh dariku,” jawabnya lirih.
“Aku juga belum tentu akan kembali pada Tasya,” ucap Adi.
“Aku tak semudah itu percaya dengan semua kata-katamu, lebih baik kita berteman seperti awal kita bertemu”
Pembicaraan ku pun terhenti. Pikiranku dan Adi berkecamuk sendiri di dalam benak masing-masing. Suasana rintikan hujan membuat kebimbangan diantara kami. Dengan perasaan tak menentu, Adi tak berbicara sedikitpun,lalu mematikan telfonnya. Demikian juga denganku.
Saat mengakhiri pembicaraan di telepon, Aku hanya menyesali keputusanku. Aku mungkin tidak dapat bertemu lagi dengan sosok pemuda seperti Adi. Namun, inilah keputusan yang telah ku ambil demi kebaikan di antara kami.

Sendiri sambil perbaiki diri

Jika jodoh tak kunjung datang, melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya pribadi dalam menjemput jodoh yang saya idam-idamkan. ...